Kamis, 10 Februari 2011

Prinsip Nyeleneh Saya

Berhubung saya sangat berminat terhadap filosofi, saya mencoba untuk menyampaikan filosofi-filosofi terbaik yang pernah saya temukan. Filosofi-filosofi tersebut saya jadikan inspirasi dan semangat bertahan alias motivasi dalam menjalankan rutinitas. Buat orang-orang yang membaca ini mungkin akan sedikit lebih banyak mengenal diri saya, karena tulisan ini menyangkut sikap saya dalam memandang kehidupan. Sedikit pamer memang, tetapi saya tidak bisa menahan untuk menyampaikannya. Berikut tiga prinsip yang membuat saya "bertahan" hingga detik ini:

1. "Some birds aren't meant to be caged, their feathers are just too bright."
Kata-kata yang disusun menjadi sebuah kalimat indah diatas bukan saya yang merumuskan, tetapi Stephen King, penulis terkenal asal Amerika. Frasa-frasa ini menjadi dikenal karena disampaikan oleh Morgan Freeman, seorang artis Hollywood terkenal pada sebuah adegan di sebuah film yang diangkat berdasarkan novel Stephen King, The Shawsank Redemption. Pada film tersebut, kalimat yang diucapkan oleh Morgan Freeman yang berperan sebagai "Red" bertujuan untuk menyikapi aksi rekan penjaranya yang melarikan diri dengan brillian dan aksi tanpa duga,  Andy dufresne (Tim Robbins). Dalam adegan tersebut, Red berumpama bahwa Andy layaknya seekor burung yang memiliki bulu yang sangat indah, sehingga penjara bukanlah tempat yang cocok bagi Andy untuk menghabiskan sisa hidupnya. Makna dari "bulu yang indah" disini yaitu kepribadian Andy yang sangat pintar yang sepertinya hanya sia-sia apabila dimanfaatkan "hanya" di dalam penjara. Walupun kepintaran Andy sangat bermanfaat bagi seluruh penghuni penjara, tetapi tetap, Andy bukan lah seorang yang pemanut, alias suka diatur. Dia hanya seorang yang seolah-olah berada di dalam kondisi sedang diatur, tetapi memiliki perencanaan lain terhadap kondisi tersebut. Oleh sebab itu, Andy diibaratkan sebagai burung yang berada di dalam sangkar, terlalu bagus apabila bulunya yang indah hanya dinikmati oleh sang majikan. Nah, melihat hal ini, saya jadi terpengaruh, semua manusia berderajat sama, kecuali ilmu dan takwa nya. Jadi, untuk membedakan kita dengan orang kebanyakan, kita haruslah memiliki wawasan yang luas. Walaupun kita berada dalam suatu "kungkungan", tidak ada salah satu dari bagian tubuh kita yang bebas, setidaknya pemikiran kita bebas. Diperlukan wawasan yang luas untuk berimajinasi walaupun kita berada di dalam kondisi yang tidak kita inginkan. Dengan pengetahuan yang kita miliki, setidaknya menambah rasa percaya diri dalam diri kita, rasa percaya diri akan menambah keyakinan, keyakinan diikuti dengan usaha akan berbuah menjadi kenyataan. Ibaratnya seorang Andy Dufresne, bagi siapapun yang merasa saat ini tidak berada di dalam kondisi dan situasi yang diimpikan, setidaknya bukalah pemikiran dan wawasan dan kedua hal itulah yang akan mengantarkan kita menuju impian.


2. We Don't Need The World, The World Needs Us

Filosofi kedua yang selalu saya tanam di dalam diri yaitu kata-kata diatas. Kalimat tegas nan indah diatas murni konsep dari saya sendiri. semua bermula dari kebiasaan, baik oleh bangsa kita maupun orang luar (bule, ras kuning, Arab, Afrika, ataupun India) dalam menuntut ilmu. Kebanyakan, kebanyakan ya, tidak semua, ilmu dijadikan sebagai tujuan akhir yang berbuntut kepada kesuksesan. Kalo mau sukses, ya ikuti aturan main yang sudah ditetapkan, karena beranggapan bahwa kita membutuhkan segala persyaratan yang diajukan untuk memenuhi semua tuntutan. IPK harus segini, pas wawancara kerja harus begini, harus berpakaian seperti ini, dan sebagainya, sehingga kita secara tidak langsung menjadi seperti robot yang selalu diatur. Sehingga, semua hal yang dituntutkan kepada kita menjadi sebuah formalitas tanpa pemahaman. Well, memang semua tuntutan kepada kita itu penting, tetapi seharusnya kita tidak dalam posisi yang ditawar. Sedikit yang beranggapan bahwa kitalah yang membuat tuntutan, sebagai penawar, bukannya orang yang membutuhkan kita yang berperan seperti itu. Ketika mencari kerja contohnya, kita selalu berada di bawah kendali para pencari tenaga kerja. Lha, bukannya mereka yang membutuhkan kita? Kenapa kita yang dibawah kendali mereka? Apakah mereka bersikap seperti itu karena persaingan yang ketat, sehingga bisa menjadi "playmaker" dalam bursa dunia kerja? Menurut saya tidak. Para "pencari kerja" kesulitan mencari kerja karena sikap dari kebanyakan pencari kerja itu sendiri. Mereka merasa ragu-ragu untuk masuk dunia kerja karena tidak merasa mantap dengan kemampuan yang mereka miliki serta tidak menyadari potensi diri, sehingga posisi tawar mereka rendah kepada para pencari tenaga kerja. Untuk itu, kita harus selalu melihat diri kita sendiri, apa kelebihan kita dari orang lain. Jangan merasa minder apabila berada disamping orang yang katanya lebih hebat, pintar atau apalah. Mereka juga manusia, pasti punya kekurangan, mungkin saja kelebihan kita adalah kekurangan bagi mereka, kita harusnya bangga dengan hal itu (tanpa maksud merendahkan kekurangan orang lain). Begitu juga ketika dihadapkan pada posisi tawar-menawar ketika memasuki dunia kerja. Ketika kita sudah mengenali potensi diri kita, secara otomatis akan meningkatkan kepercayaan diri kita karena kita yakin pada potensi kita. Apabila kepercayaan diri kita tumbuh, maka kita akan memiliki posisi tawar yang kuat pada siapapun. Ingat, yang lebih tahu diri kita adalah diri kita sendiri. Di dalam suatu percakapan, seseorang yang mengetahui lebih akan cenderung untuk berada dalam posisi mengendalikan arah atau topik percakapan, dan oleh sebab itu ketika kita berhadapan dengan posisi tawar-menawar seperti wawancara kerja, maka kita akan berada dalam posisi tawar yang sangat besar apabila kita sudah mengenali potensi dan kelebihan kita. Kita tidak membutuhkan apa yang sudah ada di dunia , tetapi dunialah yang membutuhkan kita untuk menciptakan sesuatu yang belum ada.

3. From This Day, 'Till The End of the World, We In It Shall be Remembered
Henry V pernah berujar: "Dari hari ini hingga akhir dunia, kita yang berada di dalamnya akan selalu dikenang". kata-kata tersebut diucapkan ketika Henry V akan mulai berperang bersama pasukannya. Kata-kata yang lugas tersebut mampu mambakar semangat pasukannya untuk bertempur karena ingin selalu dikenang oleh dunia. Ya, kata-kata diatas merupakan motivasi saya menjalani hidup. Tetapi kata-kata tersebut bukan bermaksud riya, dimana saya ingin dikenang karena perbuatan-perbuatan yang saya lakukan. Kata-kata tersebut lebih sebagai motivasi bagi ane dalam berbuat sesuatu. Kita bisa umpamakan, Alexander Agung tidak akan pernah mengira namanya akan selalu dikenang berabad-abad setelah kematiannya karena telahh menaklukan 1/3 dunia. Issac newton tidak pernah mengira bahwa penemuannya akan mendorong kemajuan penelitian ilmiah. Begityu juga dengan kita. Lakukanlah sesuatu yang benar-benar bermanfaat. Tentu saja melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan pribadi itu perlu, tetapi cobalah berbuat sesuatu untuk tujuan ataupun berimplikasi kepada kemashlatan orang banyak. Tidak usah melakukan sesuatu yang besar atau fantastis, cukup dengan perbuatan kecil yang bermanfaat. Dulu, saya selalu bermimpi untuk menjadi orang yang berpengaruh, orang yang dapat merubah dunia. Tetapi saya tahu, itu semua tidak semudah memakan ayam goreng, eh membalikkan telapak tangan maksudnya, harus ada usaha pemicu dari semua hal tersebut. Untuk melakukan usaha pemicu itupun susahnya minta ampun, sehingga saya jadi berpikir, apakah merubah dunia menjadi tujuan saya? Ya, tetapi saya harus memikirkan cara lain yang sederhana untuk mengubah dunia. Kita mengetahui bahwa dunia selalu dilewati dari generasi ke generasi. Proses kehidupan dunia ini ibarat proses mewariskan sesuatu. Generasi sebelumnya akan mewariskan dunia kepada generasi selanjutnya. Jika memang demikian, dunia seperti apa yang kita wariskan kepada generasi selanjutnya? Saya berpendapat bahwa tujuan kita semua adalah mewariskan dunia yang lebih baik kepada generasi selanjutnya. Bermacam cara untuk melakukan hal tersebut, tergantung pribadi kita masing-masing. Kita harus selalu memiliki proyeksi untuk menemukan dan membentuk seseorang untuk mengubah dunia, begitulah cara kita semua mengubah dunia. Ketika orang-orang yang kita beri inspirasi itu juga sukses melakukan kepada generasi yang dibawahnya, maka kita akan dikenang sebagai orang yang terlibat dalam proses tersebut, proses mewariskan dunia yang lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar