Selasa, 28 Desember 2010

"Out of Track"

Jika anda pernah menonton film Into The Wild maka yang terbesit di dalam pikiran anda pasti kata pemberontakan. Ya, film yang dirilis pada tahun 2007 ini diangkat dari kisah nyata seorang yang bernama Christopher McCandless (Chris) yang bercerita tentang 'pelarian' seorang pemuda dari kehidupan yang berorientasi materi, Chris rela meninggalkan kehidupan keluarganya yang selalu dinilai dengan materi termasuk meninggalkan sekolahnya di Fakultas Hukum, Universitas Harvard. Banyak yang mengkritik keputusan Chris sebagai tindakan naif seorang pemuda yang baru tumbuh dewasa. Banyak juga yang menyebut Chris terlalu idealis. Tetapi banyak juga yang setuju atau hanya bersimpati terhadap apa yang ia lakukan. Tetapi melihat semua tanggapan itu wajar-wajar saja mengingat apa yang dilakukan Chris itu merupakan sesuatu yang 'berisiko' untuk menghadirkan pro-dan kontra. Akan tetapi ada satu nilai yang saya tangkap dari tindakan Chris tersebut. Suatu nilai yang mungkin banyak terlewati oleh para pengkritik maupun pendukung Chris.

Memang Chris mengaku bertindak karena terinspirasi dari penulis pujaannya, Tolstoy. Hal ini mengindikasikan seolah-olah Chris cenderung bersikap idealis. Tetapi ada hal lain yang menyebabkan Chris melakukan tindakannya. Hal tersebut adalah karena ketidakbetahannya terhadap Ayahnya yang terlalu " on the track' atau menganggap segala sesuatu itu harus berdasarkan aturan yang ada. Sikap ayahnya ini dianggap oleh Chris sebagai sesuatu yang 'mengikat', mencederai kreativitas. Kenapa segala sesuatu itu harus dipaksakan sedemikian rupa untuk menjadi sempurna? Menjadi sempurna bukanlah sesuatu yang harus timbul akibat paksaan, tetapi lebih kepada dorongan untuk memenuhi kepuasan batin. Demi memenuhi kepuasan batin, tentu setiap orang memiliki cara yang berbeda, tergantung bagaimana mereka merasa nyaman untuk mencapai kepuasan tersebut. Saya pikir, hal ini yang mungkin menimpa Chris, yang mencoba untuk menemukan kepuasan batin yang tidak didapatkan pada keluarganya karena terlalu terikat aturan.

Berbicara tentang hal ini, perhatian saya tertarik kepada keadaan pendidikan di bangsa ini, dimana penghambatan terhadap kreatifitas para pelaku pendidikan sering terjadi. Seberapa sering kita lihat apabila seorang siswa memiliki pandangan yang berbeda terhadap suatu hal yang telah dibenarkan sebelumnya, para guru atau pengajar sering menyalahkan siswa tersebut baik secara konteks ataupun secara nilai akademis. Seharusnya ada suatu nilai yang diberikan kepada siswa tersebut karena telah memiliki suatu penilaian yang berbeda. Hal ini berarti ada sesuatu yang spesial dari siswa tersebut dibandingkan siswa lain hanya menganggukkan kepala terhadap apa yang sang guru sampaikan-tidak jelas apakah setuju karena memang benar-benar memahami apa yang diberikan guru atau hanya mengiyakan karena tidak memiliki kreativitas untuk memberikan penilaian.
Hal yang sama tidak hanya terjadi di institusi pendidikan, tetapi juga di lingkungan keluarga, dimana orang tua sering selalu menganggap dirinya benar tanpa mendengarkan pendapat dari anak-anak mereka. Seharusnya para orang tua sadar, dengan membiasakan seorang anak untuk menyampaikan pendapatnya terhadap suatu hal dan mengarahkannya, maka telah terjadi proses pembelajaran kepada anak tersebut.

Kita selalu melihat bahwa orang-orang yang namanya tercatat di dalam sejarah dunia ini selalu berpikir dan melakukan tindakan yang berbeda dari yang orang lain lakukan. Oleh karena itu mereka bisa menciptakan sesuatu yang baru, yang belum pernah dialami ataupun dilakukan oleh orang-orang kebanyakan.
Issac Newton menjelaskan teori tentang spektrum cahaya karena memiliki pemikiran yang berbeda dari orang-orang pada zamannya yang masih menganggap ilmu pengetahuan sebagai hal yang tabu.
Nicolas Copernicus mampu menjelaskan teori bahwa bumi itu bulat sementara orang-orang di zamannya masih terikat doktrin gereja bahwa bumi itu datar.
Alexander Agung mampu menaklukan sepertiga dunia karena memiliki hasrat untuk menyatukan dunia dan menguasainya sementara orang-orang di zamannya hanya berpikir untuk bertahan hidup.
Umar bin Khattab memiliki wawasan yang luas dengan mencoba memperluas penyebaran Islam di saat para pemeluk Islam merasa khawatir tentang kelangsungan Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW

Begitulah adanya kita lihat bagaimana orang-orang yang kita sebutkan di atas mampu menorehkan nama mereka di dalam sejarah karena memiliki keberanian untuk menjadi sesuatu yang berbeda, mencoba untuk berpikir dan bertindak lain dari kebanyakan orang pada zamannya. sekararang kita lihat, begitu banyaknya pemuda kita yang terlalu manut pada aturan, segalanya harus sesuai dengan apa yang dibentuk, berpikir sesuai doktrin yang telah ada. Walaupun mereka tahu bahwa aturan tersebut menghambat potensi mereka, tetapi tidak banyak yang mencoba untuk menjadi sesuatu yang berbeda karena terlalu takut untuk mengambil resiko. Ya, takut mengambil resiko, karena akan mengorbankan masa depan mereka. Mindset inilah yang harus diubah dari generasi muda kita. Sudah tidak zamannya lagi kita yang dibentuk oleh lingkungan, tetapi kitalah yang membentuk lingkungan tersebut.
Seseorang yang terlalu terikat aturan berkata: "Mengapa sesuatu itu harus selalu berbeda?"
Seseorang yang kreatif akan menjawab: "Karena dengan perbedaan itu jalan satu-satunya mengubah dunia".

Asalkan masih bertindak di dalam koridor moral dan agama, tentu saja dengan bersikap demikian kita insyaAllah akan meraih sukses dunia dan akhirat. Demikian juga mungkin yang terpikir dalam benak seorang Christopher McCandless ketika memutuskan untuk lepas dari kehidupan yang berorientasi materi.

Sabtu, 25 Desember 2010

The Role Model


Mendengar istilah the role model pastinya tidak jauh dari kata idola, seseorang yang dijadikan panutan baik hanya sekedar mengidolai ataupun menjadikan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Kita, sebagai umat muslim pastinya mencantumkan nama Muhammad SAW dalam daftar role model kita, baik secara ikhlas ataupun sekedar ikut-ikutan. Yang membuat miris saya adalah para generasi muda saat ini. Sangat jarang kita temukan seorang generasi muda memiliki seorang role model dari kalangan 'pembangun' seperti filsuf, tokoh bangsa, tokoh agama, ilmuwan, tokoh politik, tokoh dunia ataupun tokoh dalam budaya mereka sendiri. Tentu, sah-sah saja apabila memiliki seorang role model baik dari kalangan apapun. Akan tetapi, perlu dicantumkan bahwa seorang role model cenderung mengilhami/menginspirasi seseorang di dalam hidupnya. Alangkah mirisnya apabila generasi muda tidak memiliki seorang role mode yang berkarakter 'pembangun' seperti di atas.

Dapat diprediksi bahwa para generasi muda akan bersifat acuh terhadap permasalahan yang terjadi di sekitarnya karena memang tidak dibiasakan berpikir. Mereka terjebak di dalam kefanaan dunia akibat hanya menjadikan yang enak-enak saja dari para role model mereka sebagai anutan mereka. Padahal banyak yang bisa dijadikan bahan pembelajaran dari seorang role model. tentu, apabila kita memiliki role model seorang artis, maka yang dapat kita ambil hanya yang enak-enak saja (baca: foya-foya) karena memang media tidak memihak, hanya menampilkan sisi keglamoran seorang artis. Untuk apa kegiatan sehari-hari seoranga artis dipublikasikan? Akan lebih baik media mengekspos kisah dibalik kesuksesan mereka atau prinsip-prinsip hidup yang mereka anut, sehingga bisa juga dijadikan pembelajaran.


Hal ini sangat kontras apabila dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang jelas memberi sumbangsih terhadap pemikiran dan kemajuan dunia. Adnan Oktar, misalnya. tokoh yang lebih dikenal sebagai Harun Yahya ini layak dijadikan panutan. Kita bisa mebaca sejarahnya bahwa beliau berjuang demi kebenaran. Beliau menentang pemikiran-pemikiran sesat seperti teori evolusi, bahkan dalam perjuangan itu beliau sempat dipenjara selama bertahun-tahun. Subhanallah, hal itu tidak menjadikan hambatan bagi beliau untuk terus menegakkan prinsipnya. Begitu juga dengan kisah Nelson mandela dan tokoh-tokoh lain.

Yang perlu dijadikan anutan dari seorang role model yaitu prinsip yang dimiliki oleh seorang role model sehingga menjadikan karakter dalam pribadi seseorang. Hal ini yang banyak tidak terlihat dari generasi muda kita saat ini, entah karena bosan atau tidak menyukai kisah tokoh-tokoh tersebut atau memang diri mereka yang tidak mampu menyerap ilmu dari tokoh-tokoh tersebut akibat pembodohan global yang marak terjadi saat ini.

Sungguh miris, berubahlah para penerus bangsa!!